Jutaan ton sampah dibuang ke laut setiap tahunnya, menimbulkan ancaman besar bagi ekosistem laut dan komunitas pesisir.
Dampak dari pencemaran sampah laut dirasakan secara langsung oleh komunitas pesisir yang tinggal di sepanjang pantai Laut Timor dan Arafura, yang membentang antara Australia dan Indonesia. Plastik, alat tangkap ikan yang ditinggalkan, dan berbagai jenis sampah lainnya mencemari pulau-pulau dan garis pantai, terbawa oleh arus laut.
Ghost nets yang ditinggalkan oleh kapal penangkap ikan komersial merupakan salah satu jenis sampah laut yang paling mematikan dan umum ditemukan. Jaring-jaring ini menangkap berbagai makhluk laut seperti mamalia, hiu, pari, burung, ikan, dan penyu selama puluhan tahun, mengapung di lautan dan bertahan selama ratusan tahun sebelum terurai. Selain menjebak kehidupan laut, ghost nets juga menekan dan merusak habitat laut yang penting, seperti terumbu karang dan hutan bakau, yang sangat penting bagi komunitas pesisir di Australia dan Indonesia.
Untuk mengatasi masalah ini dan menunjukkan ketangguhan terhadap dampak pencemaran sampah laut, berbagai organisasi komunitas mengubah sampah menjadi harta. GhostNets Australia, yang didirikan pada tahun 2004, adalah aliansi komunitas adat di Australia bagian utara yang bekerja untuk melindungi kehidupan laut melalui pengangkatan ghost net, pengumpulan data, dan penciptaan karya seni dari ghost net. Inisiatif pembersihan laut lainnya, seperti Flotsam and Jetsam di Australia Barat, juga mengubah sampah laut menjadi karya seni, sambil mempromosikan konservasi dan pelestarian di wilayah seperti Kepulauan Abrolhos. Organisasi seperti GhostNets Australia (sekarang menjadi bagian dari Ocean Earth Foundation) dan Flotsam and Jetsam memiliki tujuan bersama: melindungi lingkungan laut dari limbah plastik.
Buaya Besar, GhostNets Australia
Patung GhostNets “buaya besar” dibuat oleh GhostNets Australia sebagai bagian dari proyek komunitas oleh seniman Australia Barat Karen Hethy, Cecile Williams, dan seniman Kepulauan Selat Torres. Mapoon Land and Sea Rangers serta Napranum Rangers mengumpulkan ghost net ini dari pantai di wilayah barat Cape York, salah satu kawasan rawan ghost nets yang berbagi wilayah antara Australia dan Indonesia. Dengan menggunakan teknik anyaman tradisional, para seniman menyatukan ghost net dengan tali dan bahan alat tangkap yang dibuang lainnya untuk menciptakan patung buaya ini.
Pembuatan patung seni dari ghost nets oleh masyarakat adat di Australia bagian utara bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan dampak jaring ini terhadap lingkungan laut dan komunitas yang bergantung padanya. Pameran patung buaya dari GhostNets di Museum Australia Barat menjadi pengingat kuat akan hubungan Australia Barat dengan lautan, serta ancaman yang semakin besar dari pencemaran plastik terhadap sumber daya alam yang terbatas.
Curators
Aurora Philpin | Assistant Curator, Western Australian Museum