Peninggalan Pendatang dari Makassar di Australia Barat

Western Australian Museum

Pecahan keramik dan artefak logam – termasuk kail dan bola peluru dari timah hitam –yang ditemukan di perkemahan nelayan di Australia Barat bagian utara, menunjukkan perpindahan orang dari kepulauan Nusantara termasuk nelayan musiman dari Makassar. Koleksi arkeologi ini berasal dari Tamarinda, Low Island dan Klembei di daerah Kimberley, Australia.

Perkemahan nelayan teripang Tamarinda

Penggalian di Tamarinda yang dilakukan oleh para arkeolog Western Australian Museum pada tahun 1960-an, telah mengungkapkan adanya sistem perapian dan rumah pengasapan yang mungkin dibuat untuk mengolah teripang. Berdasarkan penggambaran pada koin Belanda yang bertahun 1823, perkemahan tersebut ada antara tahun 1825 sampai dengan tahun 1850. Pohon asam (Tamarindus indica) di sekitarnya menunjukkan keberadaan nelayan musiman dari Asia Tenggara.

Artefak

Panci yang dibawa ke Teluk Napier Broome dengan perahu dari Asia telah direkonstruksi dari pecahan-pecahan keramik tanah liat yang ditemukan atau digali di pesisir pantai. Melalui analisis mineral, telah ditemukan adanya fosil Foraminifera (spesies laut) dan silikat, yang menunjukkan bahwa kapal ini dibuat di kepulauan Asia Tenggara. Sedimen pasir pantainya pun mengandung mineral yang sama. Pecahan tembikar lainnya yang ditemukan dalam penggalian ini termasuk tembikar kasar dan porselen dari Tiongkok.

Sudut pandang para pemelihara tradisi (traditional custodians)

Penggalian dan penelitian akhir-akhir ini juga melibatkan pemelihara tradisi (traditional custodians) Kwini Balanggarra yang bekerjasama dengan Western Australian Museum dan arkeolog dari University of Western Australia untuk mengeksplorasi kemungkinan adanya interaksi dari masyarakat lokal dengan pendatang dari kepulauan Indonesia tersebut. Dengan kegiatan ini, masyarakat Kwini kembali terhubung dengan artefak yang disimpan di museum.

Working with traditional custodians

Today’s excavations and research involve Kwini Balanggarra traditional custodians working with WA Museum and University of Western Australia archaeologists to explore possible interactions of local people with seasonal Indonesian visitors.  As a part of this research, Kwini people are reconnecting with artefacts held in the Museum.