Bangkai kapal Batavia

Pada dini hari tanggal 4 Juni 1629, kapal Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) Batavia, menabrak sebuah karang di sekitar pulau Houtman Abrolhos, 60 kilometer barat Kota Geraldton, Australia Barat. Bangkai kapal ini merupakan awal dari tragedi luar biasa yang terus diingat berabad-abad kemudian.

Makam Batavia

Penumpang dan awak kapal melakukan perjalanan ke beberapa pulau karang kecil, termasuk Pulau Beacon yang juga diberi nama ‘Makam Batavia’ (Batavia’s Graveyard) pada abad ke-17. Selama tiga setengah bulan sebelum kedatangan kapal penyelamat, jumlah korban selamat berkurang lebih dari setengahnya akibat pemberontakan berdarah yang dilakukan oleh awak kapal, termasuk sejumlah komodor.

Bukti pemberontakan

Bukti arkeologi termasuk bangkai kapal, struktur, situs dan artefak dari pulau karang Morning Reef dan beberapa pulau di area Wallabi dari pulau Houtman Abrolhos.

Image removed.

Setelah penemuannya pada tahun 1963, bangkai kapal Batavia diangkat oleh Western Australian Museum, yang lalu melakukan pemindahan dan pelestarian lambung kapal yang masih utuh. Penyelidikan arkeologi dari situs darat juga telah dilakukan, terutama setelah penemuan sisa-sisa manusia. Pada tahun 2006 'Batavia Shipwreck Site and Survivor Camps Area 1629' (Situs Kapal Karam Batavia dan Area Perkemahan Korban 1629) dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Nasional Australia, bersebelahan dengan Great Barrier Reef, Uluru – Taman Nasional Kata Tjuta dan Sydney Opera House.

Koleksi yang luar biasa

Koleksi artefak Batavia merupakan koleksi VOC pertama dan terbesar yang ditemukan dalam penggalian arkeologis. Koleksi dari abad ke-17 ini menjadi salah satu koleksi kapal karam terbaik di dunia. Koin, keramik, persenjataan, persediaan medis, barang-barang pribadi, peralatan navigasi, serta lambung dan tali-temali kapal yang tersisa ditemukan dan dipajang di Western Australia Shipwrecks Museum di Fremantle, Australia.